2016 Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Dunia, Mungkinkah ?

Diterbitkan  Senin, 04 / 01 / 2016 18:10

bendera indonesiaSEMAKIN tahun, dunia fana ini akan semakin bising. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri di dunia nyata, dan terutama banjir suara di dunia maya.

Perkembangan teknologi digital semakin hari semakin meriah. Segala yang fisik didigitalkan, termasuk keributan-keributan yang tadinya hanya berada di pojokan-pojokan entah, di sudut-sudut peradaban, kini semuanya merangsek ke tengah saling berebut perhatian.

Setelah tahun politik 2014, yang memang khittahnya menjadi tahun panas, 2015 yang tadinya diprediksi (atau diharapkan?) banyak pakar akan sedikit mendingin ternyata semakin penuh keonaran. Tiada hari tanpa isu panas di media sosial. Tahun 2015 adalah bukti nyata betapa intensitas hingar-bingar di bumi Indonesia akan terus meninggi. Lalu, 2016 dan seterusnya kemungkinan besar akan lebih tak karuan lagi.

Pada Tahun 2016 ini, dapat dipastikan peradaban antar peradaban akan semakin dekat bahkan tanpa sekat sedikitpun. Terlebih lagi, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga sudah akan diterapkan Indonesia pada tahun tersebut. Tentunya ini merupakan peluang namun sekaligus juga ancaman bagi peradaban Negri yang sudah tidak muda ini.

Sejarah mengatakan bahwa setiap peradaban besar pasti selalu mengalami persentuhan dengan peradaban besar sebelumnya. Yunani kuno bersentuhan dengan Mesopotamia, peradaban Islam di dunia timur bersentuhan dengan Yunani dan Romawi, Reneysance barat pun merupakan turunan langsung dari peradaban Islam klasik. Hingga pada abad milenium ini, estafet pusat peradaban akan terus berkembang dengan ciri khas serta identitasnya masing-masing. Sederhananya, pandangan yang berkembang saat ini pada dasarnya ialah proses dari pergumulan interaksi peradaban besar sebelumnya.

Apabila Indonesia memaksimalkan persentuhan peradaban dengan negara-negara lain, bukan tak mungkin estafet pusat peradaban dunia akan jatuh menjadi milik Indonesia.

Namun pada saat yang sama, persentuhan peradaban disatu sisi juga merupakan ancaman yang bukan hanya berpotensi menimbulkan konflik kecil. Persentuhan peradaban bahkan dapat meluluh lantahkan suatu Negri secara seketika. Pada dasarnya, setiap masyarakat pasti memiliki suatu tradisi mapan yang terus dipertahankan. Ketika dihadapkan dengan pola serta budaya yang berbeda, tak jarang perbedaan hingga konflik berkepanjangan terjadi pada masyarakat tersebut.

Tak hanya itu, apabila Indonesia tak memiliki sumber daya manusia yang memadai, bisa jadi Negri ini hanyalah merupakan objek penggalian yang untungnya hanya dirasakan oleh pihak lain.

Jika puncak persentuhan antar negara itu benar-benar berlaku di tahun 2016 ini, maka mau tidak mau, Ilmu Pengetahuan diharuskan untuk menjadi prioritas utama pemerintah. Karna sejarah juga mencatat bahwa setiap pusat peradaban dunia, juga merupakan pusat intelektual bagi negara-negara lain.

Sebut saja pada abad pertengahan. Ketika itu peradaban Islam merupakan pusat peradaban yang sekaligus juga pusat perkembangan ilmu pengetahuan. Buktinya, ketika itu dengan mudah ditemukan orang-orang dari belahan dunia yang belajar disana. Adelard dari bath dan gerrard dari pisa merupakan sebagian sarjana barat yang merantau untuk belajar ke Negri Timur.

Namun, Indonesia saat ini terbilang kurang dalam meningkatkan kualitas ilmu dan pengetahuan. Indonesia masih terlalu sibuk memusingkan isu politik dan kekuasaan. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme juga masih terus menggerogoti negri bahkan secara terang-terangan. Belum lagi masalah Hukum yang masih juga selalu memihak terhadap siapa yang berkuasa. Akibatnya, substansi dari tegaknya suatu peradaban tak lagi diperhatikan. Dari hal ini, setiap warga negara dengan akal pikirannya dapat dengan mudah memprediksi bisa atau tidak Indonesia menjadi suatu pusat peradaban dunia.

Dengan demikian, sistem-sistem penyatuan antar negara seperti Pasar Bebas sebenarnya merupakan pertarungan keilmuan. Negara mana yang memiliki pola keilmuan yang maju dan mapan maka ialah yang akan mendominasi. Meski berlabel ekonomi sekalipun, tetap saja keilmuan itulah yang menjadi inti dari persaingan antar peradaban. (*)

Penulis: Dedy Ibmar, Aktifis HMI Ciputat serta penggiat kajian Pojok Inspirasi Ushuluddin (PIUSH)

Komentar Anda

comments