Membangun Tangerang Selatan dengan Naluri dan Harmonisasi

Diterbitkan  Rabu, 30 / 09 / 2015 1:00

Airin Rachmi Diany. (bbs)

Airin Rachmi Diany. (bbs)

“IF you want to lead, learn to serve,” kurang lebih begini artinya “Jika Anda ingin memimpin, belajarlah untuk melayani.” Jika memimpin itu dikaitkan dengan tata kelola pemerintahan, maka keberadaan masyarakat tidak bisa dinafikkan.

“Masyarakat adalah keseluruhan hubungan antar-manusia. Masyarakat adalah suatu sistem hubungan yang ditata.” Hubungan tersebut tak lepas dari bahwa manusia memiliki naluri untuk hidup bersama dengan harmonis.

Perlu kesadaran, tiap-tiap manusia punya kebutuhan fisik, mental yang sudah barang tentu tidak bisa dipenuhi sendirian. Perlu adanya sebuah kerjasama dan bekerja, sehingga mendapatkan apa yang disebut dengan nilai (value).

Naluri beranjak menjadi sebuah hasrat yang kemudian menjadi kepentingan. Kepentingan akan memenuhi kebutuhan, keperluan. Secara otomatis manusia tersebut akan berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain.

Disinilah pentingnya seorang pemimpin dituntut kemampuannya mengorganisir beragam kelompok  dan asosiasi.Value menjadi dasar yang dalam kehidupan berkelompok.

Yang menurut pendapat Robert M. Mclever, “society means a system of ordered relations.”

Masyarakat merupakan satuan kultur yang digerakkan oleh tiga sub kultur, ekonomi, kekuasaan dan sosial. Pemerintahan didefinisikan sebagai proses interaksi tiga sub kultur tadi, agar masyarakat mampu mencapai kemajuan hidupnya yang berkelanjutan. Karena pada hakikatnya, daerah otonomi itu adalah masyarakat juga. Definisi ini berlaku juga untuk pemerintah daerah.

Jika tiga sub kultur tadi berinteraksi dengan “good” maka governance-nya disebut dengan “good governance.” Dimana kinerja “governance” menurut Profesor Taliziduhu Ndraha tadi bergantung pada lima faktor.

Keselarasan, yaitu ketepatan waktu dimana keberhasilan yang satu tidak merusak, tapi sebaliknya mendukung keberhasilan lainnya.  Keseimbangan, yang diartikan sebagai keleluasaan “bergaining power,” kekuatan sebuah rantai sama dengan kekuatan mata rantainya yang terlemah. Keserasian, bahwa dalam memimpin butuh empati sikap dan harmonisasi kerja.

Dinamika yang dimaknakan daya adaptasi dalam menghadapi kecepatan perubahan, yang perlu direspon dengan ketepatan gagasan dan strategi. Terakhir adalah keberlanjutan, tingkat kelancaran interaksi dalam proses jangka panjang.

Sementara pendapat Harold Laswell dalam “Politics, Who Gets What, When, How,” ada delapan nilai yang jika mampu diorganisir maka akan terjadi sebuah harmoni.  Antara lain: kekuasaan (power), kekayaan (wealth), penghormatan (respect), kesehatan (well-being), kejujuran (rectitude), keterampilan (skill), penerangan (enlightenment) dan kasih sayang (affection).

Berangkat dari beberapa pemikiran tadi, dalam kondisi Tangerang Selatan kekinian, perlu adanya harmonisasi untuk mewujudkan cita-citanya. Jadi marilah kita semua membangun Tangerang Selatan – sekali lagi – dengan harmonisasi.

Dimana disitu ada bentuk-bentuk penghormatan, kejujuran, kesehatan yang terjamin, pendidikan dan keterampilan yang mumpuni serta kasih sayang antar-sesama. (*)

Penulis: Airin Rachmi Diany, Calon Walikota Tangerang Selatan.

Komentar Anda

comments