Ja’an, Pejuang Kemerdekaan dari Kunciran

oleh
Jaan, pejuang kemerdekaan RI asal Kunciran. (fit)
Jaan, pejuang kemerdekaan RI asal Kunciran. (fit)
Jaan, pejuang kemerdekaan RI asal Kunciran. (fit)

Palapa News- Hari kemerdekaan republik ini tak lepas dari keringat dan darah para pejuang yang mempertaruhkan jiwa raga demi kemerdekaan Indonesia tercinta.

Ja’an, pria kelahiran kunciran, Kota Tangerang 95 tahun silam ini adalah salah satu pejuang yang turut serta berperang melawan penjajahan Belanda.

Tahun 1935 dia Sudah bergabung dengan pejuang lainnya bertempur melawan penjajah di Batavia atau kini dikenal Jakarta.

Tak mengenal lelah, siang dan malam, terus bergerilya dari lorong ke lorong, gorong ke gorong demi mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Desingan peluru, gemuruhnya ledakan granat menjadi musik penghibur sehari-hari.

“Saat gerilya, kami bersepuluh harus ngerayap dari gorong-gorong satu ke satunya lagi untuk bisa mendekat ke benteng belanda di Batavia,” Kata Ja’an kepada palapanews.com, Sabtu (15/8/2015).

Perlawanan yang dilakukan untuk merebut benteng Belanda tersebut dilakukan dalam waktu yang tidak sebentar Serta pertumpahan darah pejuang yang tidak sedikit. Dan itu terjadi di depan mata Ja’an.

“Banyak teman-teman yang mati di depan mata saya saat perang. Tapi ITU tidak melemahkan, malah membuat saya semakin semangat untuk mengusir penjajah Dari negeri ini,” terang pria berambut putih ini dengan tatapan kosong.

Dalam peperangan merebut kemerdekaan itu, Ja’an beserta kelompoknya dibawah komando strategi Soekarno. “Pak Karno selalu tegas dalam memberikan semangat dan strategi untuk para pejuang,” tegas Ja’an.

Strategi demi strategi dijalankan dan berbuah manis. Hingga Ja’an diperbantukan untuk mengusir penjajahan di Yogyakarta.

“Kami bersama pejuang lain diperintahkan untuk membantu pejuang di Yogyakarta dalam mengusir penjajah,” papar Ja’an.

Bermodalkan bambu runcing dan sepucuk pistol hasil rampasan dari tentara Belanda yang mati, Ja’an bersama pejuang lainnya Terus berperang.

“Dalam peperangan, makan dan minum itu seadanya, ketemu singkong ya singkong, Kalo ga ketemu ya tetap berperang. Tak ada Kata menyerah,” tegasnya.

Masa kemerdekaan, Ja’an bersama pejuang lainnya kembali dan bersiaga di Jakarta. “Sejak kemerdekaan, saya bersama teman-teman berjaga di Jakarta,” ungkapnya.

Saat ini, Ja’an hanya berdiam diri di rumah menikmati masa tua dengan sejuta kenangan saat berjuang bersama teman-temannya yang saat ini Sudah banyak yang meninggal.

“Beberapa penghargaan bukti perjuangan, dan uang yang diberikan pemerintah dua bulan sekali menjadi penghibur disaat sendiri,” pungkas Ja’an. (fit)

Komentar Anda

comments