Peranan Asia Dalam Krisis Global

Diterbitkan  Jumat, 09 / 11 / 2012 14:11

Pada saat menyampaikan pandangan pada pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 Asem di National Convention Center, Vientiane, Laos, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpendapat bahwa Asia bisa memainkan peran dalam membantu krisis ekonomi di Eropa dan bagian dunia lainnya. Untuk itu penting meningkatkan kerja sama di kedua kawasan tersebut.

Sikap optimisme yang dikemukakan SBY, menunjukan Indonesia mampu memainkan peran penting dalam pemulihan ekonomi regional dan global. Meski Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2012 mengalami pelambatan. Bukan berarti perekonomian nasional mengalami kehancuran pertumbuhan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2012 menembus 6,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya pertumbuhan nasional, mengalami kenaikan hingga 3,21% dibanding triwulan sebelumnya. Tercatat pada triwulan III-2012 Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp 671,5 triliun. Sementara itu Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp 2.122,8 triliun rupiah.

Jika dilihat dari realitas yang ada, Indonesia dapat dikategorikan negara yang pertumbuhan ekonominya paling cepat berkembang, dan menjadi salah satu negara yang perekonomiannya paling stabil di Asia.

Realisasi investasi yang tercatat di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) pada triwulan kedua mencapai Rp76,9 triliun.

Upaya mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan nasional secara gencar terus dilakukan. Dalam forum APEC, SBY mengajak para pebisnis Asia Pasifik untuk masuk ke dalam proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang tengah digiatkan pemerintah.

Dalam pernyataannya Yudhoyono mengatakan proyek MP3EI yang akan berlangsung hingga 2025 diproyeksikan membutuhkan investasi senilai US$ 500 miliar baik dari investasi domestik maupun asing.

Upaya mempromosikan MP3EI secara gencar terus dilakukan. Dalam kunjungannya ke Laos, SBY mengatakan, investasi infrastruktur melalui MP3EI akan menciptakan banyak pekerjaan yang akan mendorong daya beli masyarakat.

Kekuatan Asia

Laporan yang tertuang dalam HSBC Trade Connection Report 2011, menyatakan pada tahun 2025, Indonesia di prediksi akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Kekuatan ini, bukan saja sebagai kekuatan yang hanya bersifat kontemforer semata, tetapi kekuatan yang menempati posisi 4 ekonomi dunia dengan pertumbuhan perdagangan tertinggi, mencapai 96% sampai tahun 2025, dimana pada tahun tersebut terdapat 5 negara Asia.

Dana Moneter Internasional atau “International Monetary Fund” (IMF) dalam pernyataanya mengatakan, Indonesia sekarang ini merupakan salah satu negara dengan kondisi perekonomian terkuat di antara negara-negara di ASEAN.

Pernyataan ini, berdasarkan proyeksi IMF, yang menjelaskan ekonomi Singapura dan ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Pilipina), tumbuh sekitar 5,3 persen. Tahun ini saja, Pertumbuhan ekonomi Indonesia, tertinggi dibanding dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. PDB Malaysia tahun 2011 adalah 5,2 persen, Filipina: 4,7 persen, Singapura: 5,3 persen, Thailand: 3,5 persen, dan Vietnam: 5,8 persen.

Dari sisi investasi dan perdagangan, ASEAN juga terus mencatat tren kenaikan. Nilai investasi yang masuk ke AEAN ini pada 2009, tercatat 37,8 miliar dolar AS. Tahun 2010, nilai investasi naik hingga 100 persen menjadi USD 70,8. Seperempat nilai perdagangan dunia berlangsung di kawasan ASEAN, terbukti dari besarnya kontribusi perdagangan intra-ASEAN terhadap perekonomian global.

Pada 2010, kontribusi perdagangan intra-ASEAN terhadap ekonomi global sebesar 25,4 persen, naik dari 24,5 persen pada tahun 2009. Pangsa investasi FDI di ASEAN dibandingkan dengan investasi FDI global juga telah mengalami peningkatan signifikan selama masa krisis global yang dimulai sejak tahun 2008 lalu, yaitu dari 2,8 persen pada 2008, menjadi 3,6 persen (2009), dan meningkat 4,8 persen (2010).

Pada hal tahun 2003,  pertumbuhan ASEAN hanya sebesar 700 juta dolar Amerika. Saat ini nilai tersebut melonjak tajam menjadi 2,9 triliun dolar Amerika. Angka ini akan mengelembung secara drastis.  Jika  menggabungkan ASEAN dengan enam mitra yang sudah memiliki perjanjian perdagangan, yakni China, Jepang, Korea, India, Australia, dan Selandia Baru, maka jumlah tersebut menjadi 15 triliun dolar Amerika.

Angka ini bisa diterjemahkan menjadi kekuatan dan peluang yang ada di depan mata bagi Indonesia. Keuntungan lainnya terbentuknya komunitas ASEAN, yang bertujuan untuk menghadapai persaingan ekonomi untuk menghadapai pesatnya ekonomi negara China dan India.

Pada akhirnya penulis menyimpulkan apa yang disampaikan SBY dalam KTT ke-9 Asem di National Convention Center, Vientiane, Laos bukan lah isapan jempol. Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia saat ini cukup tinggi di tengah resesi dan krisis global yang masih terus berlangsung.

Salah satu contoh konkret dari peran Asia sebagai mesin pertumbuhan global adalah Indonesia. Indonesia sekarang ini berperan terhadap pemulihan ekonomi regional dan global. Indonesia sebagai salah satu negara yang terkuat di ASEAN dan  negara yang mampu bertahan dari terpaan krisis di Eropa. Saat ini, Indonesia menjadi negara urutan kedua terbaik di G20 dengan pertumbuhan 6,4%. Apa lagi secara keseluruhan, perkiraan pertumbuhan GDP di Asia pada 2012 menurun sebesar 0,2 persen dari tahun sebelumnya 7,9 persen menjadi 7,7 persen.(***)

Komentar Anda

comments