Memaknai Kunjungan Hatta Ke Azerbaijan

Diterbitkan  Rabu, 26 / 09 / 2012 22:31

Peneliti di Developing Countries Studies Center (DCSC) Jakarta

Peluncuran Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 pada Mei 2011 lalu merupakan langkah awal untuk mendorong Indonesia mewujudkan mimpi menjadi negara maju.

Melihat kinerja ekonomi Indonesia yang mampu keluar dari krisis ekonomi 1997/1998 dalam waktu singkat dan terus membaik dari tahun ke tahun bahkan menunjukan trend yang meningkat serta mampu bertahan bahkan kinerja ekonomi tumbuh rata-rata di atas 6 % / tahun ditengah krisis global ini, prediksi ekonomi Indonesia akan kembali macan Asia dalam beberapa tahun kedepan bukanlah isapan jempol belaka.

Indonesia yang memiliki Masterplan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia 2011-2015 yang memiliki Visi “Mengangkat Indonesia menjadi Negara Maju” dan merupakan kekuatan 10 besar dunia di tahun 2030 dan 6 besar dunia tahun 2050 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inclusif dan berkelanjutan.

Kepercayaan dunia Internasional terus meningkat salah satunya Indonesia akan menjadi Ketua APEC pada tahun 2013. Dengan dipercayainya Indonesia sebagai Ketua APEC merupakan salah satu bentuk pengakuan dunia Internasional sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia saat ini.

Prediksi Indonesia dalam beberapa tahun kedepan menjadi Macan Asia di bidang Ekonomi bukanlah mimpi belaka namun akan menjadi kenyataan dengan bercermin dari prestasi-prestasi yang diraih Indonesia selama ini baik keberhasilan keluar dan bertahan dari krisis ekonomi global maupun prestasi Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya rata-rata di atas 6% dan meningkatnya kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia.

Melalui MP3EI akan dikembangkan cluster-cluster industri untuk menciptakan konektivitas antarwilayah. Enam koridor di dalam MP3Ei diharapkan dapat memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected).

Dalam kaitan itu, kunjungan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa ke Azerbaijan beberapa waktu lalu dapat dilihat sebagai sebuah upaya untuk mempromosikan MP3EI sekaligus mengundang minat investor untuk berpartisipasi.

Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Azerbaijan selama ini masih sangat terbatas. Data statistik menunjukkan neraca perdagangan kedua negara hingga saat ini baru mencapai US$ 1,7 Miliar. Kunjungan itu diharapkan dapat menjadi awal bagi peningkatkan neraca perdagangan kedua negara. Kunjungan penjajakan kerja sama ekonomi semacam ini merupakan sebuah upaya untuk menarik minat investor untuk berpartisipasi dalam MP3EI.

Berbeda dengan perencanaan-perencanaan ekonomi di masa lalu, MP3EI berisi sejumlah terobosan aksi pengembangan aktifitas ekonomi yang konkrit. Dalam rentang waktu tahun 2011-2025 diperkirakan MP3EI akan menelan anggaran sebesar 4.000 triliun rupiah.

Sementara itu, terkait masalah pendanaan Hata menjelaskan bahwa investasi dalam MP3EI direncanakan total sebesar US$ 500 miliar. Pemerintah akan memberikan kontribusi sekitar 10%. Sisanya akan disediakan oleh perusahaan milik negara, sektor swasta, dan public private partnership. Hal ini merupakan kesempatan baik bagi sektor swasta, domestik, dan internasional untuk berinvestasi.

Untuk mengurangi hambatan pelaksanaan MP3EI Pemerintah berkomitmen untuk melakukan deregulasi terhadap aturan yang menghambat dan menghilangkan tumpang tindih kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Jadi, jika dirangkum dalam satu kalimat sederhana MP3EI memiliki esensi semangat berupa pelibatan sebanyak mungkin pemangku kepentingan (stakeholders) pemerintah pusat, pemerintah darah hingga pihak swasta  demi membangun kehidupan ekonomi Indonesia yang lebih baik.

Selain meningkatkan aktifitas perdagangan kedua negara, kunjungan Hatta juga membawa sejumlah misi lain, seperti membuka pintu bagi Pertamina menggarap sektor migas di Azerbaijan dan mempererat kerjasama di bidang ketenagakerjaan. Pertamina akan masuk pada sektor migas Azerbaijan mengingat negara pecahan Uni Soviet ini memiliki cadangan migas sangat besar. Sedangkan kerjasama di bidang ketenagakerjaan dilakukan saat ini tidak sedikit jumlah tenaga kerja terlatih yang bekerja di Azerbaijan.

Akhirnya, kunjungan delegasi Indonesia di Azerbaijan menandakan geliat Indonesia sebagai sebuah kekuatan baru ekonomi global. Di saat negara-negara besar sedang berada dalam ancaman krisis global, ekonomi Indonesia justru terus tumbuh positif sehingga makin memikat ketertarikan para investor.(**)

Komentar Anda

comments