Menyikapi Apresiasi Hipmi

Diterbitkan  Selasa, 04 / 09 / 2012 13:52

Beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri silatuhrahmi keluarga besar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Pada kesempatan yang sama, SBY juga menerima anugerah Hipmi Lifetime Achievement Award untuk bidang ekonomi.

Yudhoyono saat itu, memanen pujian dan pengharagaan dari berbagai kalangan dalam dan luar negeri terkait baiknya pembangunan ekonomi Indonesia. Dirinya, dinilai telah berhasil membangun perekonomian nasional sehingga tumbuh positif di tengah krisis ekonomi global. Award ini sekaligus menunjukan,  Indonesia dapat dikategorikan negara beruntung dibandingkan negara berkembang lainnya.

Keberuntungan ini terlukiskan, ketika negara-negara lain di dunia masih dinaungi awan kelabu krisis global yang bertiup dari Eropa dan Amerika Serikat, ternyata Indonesia masih tetap berdiri kokoh. Untuk ukuran Indonesia dengan ekonomi US$ 850 ribu pertumbuhan 6,4% tergolong tinggi. Pencapaian pertumbuhan ini, merupakan pencapaian tertinggi sejak negara ini berdiri.

Peningkatan Investasi

Faktor penopang pertumbuhan saat ini, dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, nilai investasi yang melebihi target. Nilai investasi triwulan kedua tahun 2012 membukukan nilai tertinggi sepanjang sejarah. Pasalnya, krisis keuangan di Eropa membuat banyak investor asing lari ke Indonesia.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi di Indonesia, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) pada triwulan kedua mencapai Rp76,9 triliun. Kedua, konsumsi domestik yang begitu kuat.

Konsumsi domestik menyumbang hampir 60% dari perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Indonesia berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional atau “International Monetary Fund” (IMF), merupakan salah satu negara dengan kondisi perekonomian terkuat di antara negara-negara di ASEAN. Berdasarkan HSBC Trade Forecast, Indonesia menempati peringkat keempat negara dengan prediksi pertumbuhan tertinggi sampai dengan tahun 2025.

HSBC Trade Connection Report 2011, memprediksikan pada tahun 2025, Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Kekuatan ini, bukan saja sebagai kekuatan yang hanya bersifat kontemforer semata, tetapi kekuatan yang menempati posisi 4 ekonomi dunia setelah Mesir, India, dan Vietnam dengan rata-rata pertumbuhan volume perdagangan sebesar 7,3% per tahun.

Dalam 15 tahun ke depan, diprediksi total pertumbuhan perdagangan Indonesia akan naik sebesar 144% yang didorong oleh ekspor komoditas. Selain itu di tahun 2025 perdagangan Indonesia diperkirakan mengalami kenaikan berkisar Rp 619,6 miliar dari US$ 280,4 milir tahun 2010.

Penilaian yang sama pun disampaikan oleh Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) juga cukup optimistis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Merujuk laporan yang disampaikan Asian Development Outlook Edisi Juli 2012, ADB mengakui perekonomian global saat ini tengah mengalami cobaan yang sangat menghawatirkan selama tahun 2012 dan 2013.

Bahkan proyeksi terbaru menunjukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup menghawatirkan dari prediksi ADB, semula diperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negara berkembang di Asia bakal berada di kisaran 6,9 persen, terpaksa menurunkan proyeksinya ke level 6,6 persen.  Pelemahan ini, sejalan dengan kondisi ekonomi dunia yang makin sulit.

Melambatnya ekonomi China dan India juga menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekonomi.

Namun, di balik kekhawatirkan akan ancaman awan hitam krisis, ADB justru memberikan apresiasi positif bagi negara-negara Asia Tenggara. Perekonomian kawasan Asia Tenggara diyakini bakal tumbuh 5,2 persen pada 2012 dan 5,6 persen di 2013.

Respon positif ADB pada Indonesia, menunjukan perekonomian nasional semakin menunjukan tren positif. Negara kepulauan ini diyakini bakal bersinar kendati krisis ekonomi dunia tengah menghantam. Naiknya penjualan ritel seiring bertambahnya konsumsi dalam negeri ditambah kuatnya kepercayaan konsumen, terbukti mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Kolaborasi kekuatan

Langkah pemerintah yang tetap mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar serta stimulus fiskal, menjadi fator penunjang perbaikan ekonomi nasional. Penulis menyimpulkan apa yang di apresiasikan Hipmi kepada SBY setidaknya menunjukan adanya hubungan harmonis antara pemerintah dan pengusaha. Sejarah pun mencatat, pengusaha muda merupakan aktor yang sangat vital dalam upaya mengembangkan inovasi, kreatifitas, kemadirian ekonomi dan pembangunan ekonomi bangsa.

Penguatan inovasi, kreatifitas dan kemandirian pengusaha muda dan pemerintah menjadi salah satu modal utama yang berbentuk kolaborasi dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional. UU No.40 tahun 2009 tentang kepemudaan mengamatnatkan pemerintah berkewajiban ikut serta mendorong dan melibatkan pemuda dalam pembangunan ekonomi.

Langkah pemerintah di bawah komando Presiden SBY yang konsistem menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6 persen, merupakan pencapaian sektor ekonomi yang sangat membanggakan. Apa lagi upaya ini dilakukan ditengah kepungan ancaman krisis global. Oleh karena itu, Hipmi mengapresiasikannya dengan memberikan Hipmi Lifetime Achievement Award untuk bidang ekonomi kepada Presiden SBY.

Menanggapi penganugerahan penghargaan tersebut, Yudhoyono mengatakan capaian ekonomi yang sekarang dirasakan oleh semua bangsa Indonesia merupakan hasil dari kerja keras semua pihak selama delapan tahun terakhir dan wujud kerja pemerintah, kalangan usaha, ekonom dan masyarakat Indonesia. Kolaborasi ini mampu melahirkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus menerus bergerak positif.

Pada akhirnya penulis menyimpulkan apa yang disampaikan Hipmi, merupakan bentuk apresiasi yang diberikan kepada kepala negara yang dianggap mampu membawa kebangkitan perekonomian nasional dan mengantar Indonesia menjadi negara maju. Penganugrahan ini sekaligus mematahkan adanya ungkapan Indonesia negara auto pilot atau negara yang mengalami kegagalan(***)

Komentar Anda

comments