Hardiknas Dikadoi Sekolah Tak Layak

Diterbitkan  Rabu, 30 / 05 / 2012 6:56

TANGERANG, 

Kabupaten Tangerang merupakan salah satu daerah yang menjadi penyangga ibukota, namun di hari pendidikan ini potret miris wajah pendidikan masih bisa dilihat di mana-mana. Karena di beberapa wilayah masih ada sekolah yang dalam kondisi tidak layak.

Seperti yang terlihat di salah satu kelas, yakni di SDN Sindang Asih 1 Kampung Etek, Desa Sindang Asih, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang.  Ruang kelas yang dipergunakan 40 murid kelas satu tersebut selain berlantai tanah, fisik atapnya juga dipenuhi lubang besar. Sehingga, bisa dipastikan saat hujan turun airnya langsung membasahi ruangan kelas tersebut.

“Karena bolong tentu saja saat hujan kelas ini akan tergenang air, sehingga kelas tidak akan bisa digunakan lagi,” ujar Rumilah, guru yang mengajar disekolah tersebut.

Selain itu, menurut Rumilah, pihak sekolah terpaksa membagi proses belajar menjadi dua shift. Karena, di ruangan tersebut tidak cukup memiliki bangku belajar. “Kondisi bangku sekolah sudah rusak dan tidak cukup untuk semua siswa sehingga terpaksa kami bagi menjadi dua,” ujar Rumilah.

Rumilah mengatakan bahwa memang pihak sekolah telah mengajukan perbaikan ruangan belajar di sekolahnya tersebut. Hanya saja, hingga saat ini belum bisa direalisasikan. “Kami mengajukan telah lama, namun baru akhir tahun lalu bisa terealisasi. Itu pun hanya dua kelas saja, sedangkan sisanya masih seperti sekarang,” jelasnya.

Menanggapi itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang Amran Arifin mengatakan bahwa ia sangat miris melihat keadaan ini. “Sejak pagi saya keliling di seluruh wilayah seperti Sepatan Pakuhaji, Mauk  dan saya melihat ternyata masih banyak sekolah yang memprihatinkan,” ujarnya.

Seharusnya, kata Amran, sebagai daerah penyangga ibukota, tidak ada lagi sekolah  yang dalam kondisi memprihatinkan. “Mungkin jika di daerah pelosok masih wajar namun ini di Kabupaten Tangerang yang wilayahnya sangat dekat dengan ibukota, tidak pantas lagi ada sekolah yang rusak,” tegas Amran.

Buruknya infrastruktur pendidikan, kata Amran, tentu saja berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di Kabupaten Tangerang. “Saya yakin dengan kondisi kelas seperti ini, anak-anak tidak akan maksimal menyerap pelajaran, terlebih kelas tersebut digunakan bagi anak kelas satu, bisa-bisa mental mereka jatuh duluan melihat kondisi kelas yang sangat hancur seperti itu,” jelas Amran.

DPRD, kata Amran, akan mendesak kepada pemerintah Kabupaten Tangerang untuk lebih memperhatikan lagi kondisi infrastruktur pendidikan. “Seharusnya dengan dana BOS yang ada saat ini sudah bisa membantu pemerintah daerah untuk mengurangi biaya pendidikan, sehingga seharusnya mereka sudah bisa fokus dalam melakukan pembangunan infrastrukturnya,” ujar Amran.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Arsyad Husain mengatakan bahwa dirinya mengakui saat ini belum semua kondisi sekolah di wilayahnya dalam kondisi baik. “Jangan samakan dengan daerah lain yang telah bertingkat atau dengan bangunan megah, namun kami telah bekerja keras untuk memperbaikinya,” jelas Arsyad.

Menurut Arsyad, pihaknya bakal terus memperbaiki sekolah-sekolah rusak termasuk program pembangunan 30 perpustakaan SD pada 2012. “Ini pekerjaan rumah kami untuk bisa membangun lebih banyak ruang belajar agar bisa mencukupi kebutuhan. Namun ini tentunya bukan tugas pemerintah saja melainkan tugas semua pihak di antaranya pihak swasta,” kilahnya.

Komentar Anda

comments